oleh

Keraton Solo Gelar Tradisi Adat Malam Selikuran

-Tradisi-347 views

LOKABALI.COM- Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Minggu malam (2/5/21) menggelar hajad dalem kirab malam selikuran dari kori Kamandungan menuju Masjid Agung Surakarta.

Kirab di ikuti sentana dalem, kerabat dalem dan para abdi dalem dari berbagai perwakilan di seluruh daerah dengan tetap mengedepankan protap kesehatan cegah penyebaran covid 19.

ITB-STIKOM-Bali

‘ Di maknai dengan kirab, sebab tumpeng dan jodang di arak beriringan dari dalam keraton menuju masjid agung oleh para abdi dalem sebagai ungkapan wujud rasa syukur kepada Allah SWT ‘ Terang KP. Dr. H. Andi Budi S, S.H, M.Ikom, selaku tokoh budaya nusantara sekaligus sentana dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Sentana dalem keraton Solo, KP. Dr.H. Andi Budi S, SH, M.Ikom

Andi, hajad dalem malam selikuran merupakan tradisi adat yang rutin di gelar tiap tahun di Keraton Solo saat malam memasuki 21 ramadhan. Tradisi ini tidak hanya sebagai ungkapan wujud rasa syukur keraton beserta para kawulanya, akan tetapi juga mengharap berkah datangnya malam lailatulqodar atau malam seribu bulan.

Pada prosesi acara malam selikuran, setelah seluruh tumpeng sesaji berada di dalam masjid agung, kemudian di pasrahkan dari utusan raja kepada abdi dalem penghulu tafsir anom masjid agung untuk mendoakan keselamatan raja beserta keluarganya, keraton bersama kawulanya dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

‘ Dengan harapan dijauhkan dari balak dan musibah ‘ jelas sentana dalem Kanjeng Pangeran Andi Budi mengungkapkan prosesi tradisi adat malam selikuran di Keraton Solo.

Usai prosesi upacara selesai, seribu tumpeng dan jodang sesaji lantas dibagikan kepada masyarakat yang ada di sekitar masjid agung.

‘ Tak terkecuali para abdi dalem keraton Solo ‘ Imbuhnya.

Di katakan, selain tumpeng sewu, para abdi dalem juga membawa lampu ting ting hik dan lampion berlafadzkan asma kebesaran Allah dan RasulNya. Ting ting hik di maknai sebagai penerang jalan yang melambangkan bahwa malam lailatulqodar merupakan manifestasi turunya Al Qur’an sebagai hidayah dan petunjuk penerang jalan bagi umat manusia.

Di akui KP. Dr.H. Andi Budi, tradisi malam selikuran di tengah masa pandemi memang tidak semeriah tahun sebelumnya, akan tetapi jangan sampai segala keterbatasan tersebut menjadi hambatan bagi kita untuk bersyukur kepada Allah SWT. Apalagi ungkapan syukur di lalukan bertepatan bulan suci ramadhan.

‘Oleh sebab itu sebagai umat muslim di Indonesia, tradisi malam selikuran tidak hanya sebatas ungkapan wujud rasa syukur, tetapi juga menjadi sarana siar dan dakwah melalui budaya di Keraton Solo, Tutup Kanjeng Pangeran Andi Budi dalam keteranganya. /jk



Komentar

Berita Lain