oleh

Kenapa Harus Di siram Banyu Badeg? Begini Asal Usul Tradisi Adat Mondosiya

LOKABALI.COM-Tradisi adat Mondosiya yang di gelar di punden balai patokan Dusun Pancot, Lereng Lawu, merupakan tradisi bersih desa yang sarat dengan makna filosofi tentang kelestarian hidup dalam rangka mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Punden Balai Patokan merupakan tempat keramat yang sampai sekarang di yakini oleh masyarakat dusun Pancot sebagai saksi bisu cikal bakal berdirinya Dusun Pancot. Di punden Balai Patokan terdapat batu gilang yang sampai saat ini masih di keramatkan oleh warga. Pada perayaan adat Mondosiya, batu gilang tersebut di siram dengan banyu badeg ( Air dari hasil fermentasi makanan tape ) sebagai bagian dari perayaan adat Mondosiya.

Menurut Sulardiyanto, selaku tokoh masyarakat Dusun Pancot, di siramnya batu gilang dengan banyu badeg konon dari cerita tutur sesepuh desa dulu untuk menyempurnakan arwah Prabu Boko yang mati karena di hantam kepalanya dengan batu gilang. Selain itu penggunaan banyu badeg hasil fermentasi tape yang mengandung alkohol juga untuk menghilangkan bekas darah milik Prabu Boko yang menempel di batu.

Keterangan gambar : Sesepuh dusun Pancot, Sulardiyanto / foto: lokabali

Makna lain dari penggunaan banyu tape sebenarnya sebuah pelajaran hidup untuk lebih mengingatkan pada manusia agar jangan mendekat dengan alkohol atau minum minuman keras. Filososofi ini sebuah pelajaran hidup hakikat bagi masyarakat Dusun Pancot agar kelak di kemudian hari mereka selalu dapat hidup rukun bersama.

Lantas bagaimana awal mula tradisi adat Mondosia ini setiap tahun di selenggarakan ?

Di ceritakan oleh Sulardiyanto, punden Balai Patokan di kenal juga dengan nama Punden Prabu Baka. Hal tersebut di ungkapkan pertama kali oleh Gus Dur yang mengutus seorang utusan untuk mencari Punden Prabu Boko di lereng Gunung Lawu. Berdasarkan pesan spiritual yang diterima Gus Dur saat itu, ia akan melakukan kunjungan spiritual di Punden Prabu Boko. Setelah di ketemukan jika punden Prabu Boko sebenarnya Punden Balai Patokan, Gus Dur yang saat itu di dampingi oleh Sulardiyanto selaku tokoh masyarakat, lantas mendatangi punden Balai Patokan untuk melakukan ritual semedi.

Cerita tutur mengungkapkan, jaman dahulu kawasan lereng Gunung Lawu merupakan daerah kekuasaan Prabu Boko. Tak terkecuali daerah Dusun Pancot dan sekitarnya. Al kisah dari kegemaran Prabu Boko yang suka menyantap masakan lezat sampai suatu ketika tanpa sadar saat tengah memasak jari kelingking emban kerajaan milik mbok Rondo teriris pisau, dagingnya ikut dimasak kedalam masakan untuk sang Prabu Boko.

Mencicipi lezatnya daging kelingking manusia, Prabu Boko akhirnya ketagihan. Ia meminta tumbal satu orang dari satu keluarga untuk di korbankan. Sampai akhirnya lambat laun jumlah warga desa mulai berkurang. Setiap hari harus ada korban manusia untuk di persembahkan kepada Prabu Boko. Sampai akhirnya tibalah jatah keluarga mbok rondo yang harus mengorbankan anak satu satunya yang masih bayi untuk di korbankan kepada Prabu Boko. Setiap hari mbok rondo di rundung dalam kesedihan sampai akhirnya seorang pertapa yang tengah bertapa di Pertapaan Pringgondani mendengar kesusahan yang di rasakan oleh mbok rondo.

Kepada mbok rondo sang pertapa menyanggupi menggantikan sebagai tumbal dari jabang bayi untuk Prabu Boko. Sang pertapa yang memiliki nama Panembahan Kotjonegoro lantas berubah menjadi jabang bayi menukar namanya menjadi jabang tetuko

Hingga tiba masa persembahan, jabang tetuko di haturkan kepada Prabu Boko oleh mbok rondo dan disantap saat itu juga. Akan anehnya, daging jabang tetuko kulitnya sekeras baja, ototnya seperti kawat sehingga Prabu Boko murka dan menelanya mentah mentah.

Berada di dalam perut Prabu Boko jabang tetuka terus bergolak sampai akhirnya oleh Prabu Boko, bayi yang di telanya di muntahkan kembali keluar dan terlempar sampai ke laut selatan. Di laut selatan jabang tetuka mengambil sebuah batu kemudian di hantamkan di kepala Prabu Boko sampai pecah kemudian ia tewas. Saat mengahantamkan batu di kepala , kaki jabang tetuka memancat pundak Prabu Boko. Oleh asal dari kata memancat ( pancat ) ini tempat kejadian tersebut lantas diberinama Dusun Pancot.

Konon otak kepala Prabu Boko berubah menjadi bukit kapur yang saat ini berada di daerah Jabal Kanil Matesih. Matanya berubah menjadi bawang merah dan taringnya menjelma menjadi bawang putih. Oleh karena cerita ini, sampai sekarang Dusun Pancot di kenal sebagai penghasil tanaman bawang merah dan bawang putih unggulan dari Karanganyar.

Pada perayaan tradisi adat Mondosia di gelar juga pentas seni reyog milik warga desa. Selain itu juga ada tradisi rebutan ayam yang di Punden Balai Patokan. Ayam ayam yang di perebutkan oleh warga hasil pemberian pelaku ritual yang hajadnya terkabulkan saat melakukan permohonan hajad di Punden Balai Patokan.

Sementara itu yang istimewa dari perayaan mondosiya, terdapat satu sesaji yang di buat dari tepung beras dan parutan kelapa yang diberinama Gandik. Makanan ini hanya ada saat perayaan adat Mondosiya yang di gelar pada hari Selasa Kliwon, wuku Mondosiya. /jk

 



Komentar

Berita Lain