oleh

Kenang Jasa MN IV, Lesbumi Maknai Nilai Tasawuf Serat Wedhatama

LOKABALI.COM-Serat wedhatama karya KGPAA Mangkunegoro IV di kenal merupakan kitab piwulang kautaman hidup yang di akui sangat pas dan trap dengan karakter masyarakat Jawa. Oleh sebab itu banyak nilai pendidikan budi pekerti bisa di ambil dari Serat Wedhatama untuk membangun karakter generasi muda melalui pendidikan lokal wisdom.

Pendidikan tersebut tidak hanya pada budi pekerti, namun juga piwulang tasawuf kemakrifatan yang harus di jalani masyarakat jawa sebagai laku kautaman agar selalu ingat tentang penciptaan dirinya melalui purwaning dumadi serta kemana tujuan arah hidup yang di jabarkan melalui sangkan paraning dumadi dalam serat Wedhatama.

ITB-STIKOM-Bali

Oleh sebab itu untuk menggali kembali pendidikan karakter dalam memaknai serat Wedhatama, Lembaga Seni Dan Budaya Muslimin PCNU Kota Surakarta, Sabtu malam (25/9) menggelar tetembangan serat Wedhatama untuk mengenang serta menggali piwulang kautaman tasawuf pada serat karya KGPAA Mangkunegoro IV.

Bertajuk Ngopi, Ngaji dan Ngajeni, pupuh Pangkur yang terdiri dari 14 padha dalam serat Wedhatama di bedah serta di maknai wedaranya ‘ Jelas Arif, selaku ketua Lesbumi PCNU Kota Surakarta.

Hadir dalam acara tetembangan Ketua PCNU Kota Surakarta, H. Mashuri, SE. M.Si, Ketua LTM PCNU Kota Surakarta, Penasehat LPBI, jajaran pengurus Lesbumi serta beberapa perwakilan pengurus Ranting NU dan masyarakat pemerhati budaya di Kota Surakarta.

Arif katakan, di ambilnya serat Wedhatama untuk acara Ngopi, Ngaji dan Ngajeni karena banyak karya sastra karya MN IV yang sudah mendunia dan diakui oleh para ahli sastra dan budaya tentang nilai keislaman yang selaras dengan kultur masyarakat Jawa.

Sementara itu tajuk Ngopi, Ngaji dan Ngajeni di maknai sebagai lingkup kecil ruang sosial tempat interaksi berbagai hal dengan kehangatan dan kenyamanan. Ngaji adalah interaksi sosial untuk menambah wawasan dan nilai nilai keilmuan. Ngaji juga tempat untuk mawas diri, intropeksi terhadap segala perilaku kehidupan yang selama ini sudah kita jalani.

‘ Sedangkan Ngajeni adalah perilaku hidup bagaimana kita menghormati para winasis dan para leluhur. Agar bisa memaknai secara benar ‘mikul duwur mendhem jero’ Jelas Arif mengungkapkan makna tajuk Ngopi, Ngaji dan Ngajeni.

Seperti halnya syair pupuh pangkur serat wedhatama yang mengatakan’ Mangkana ngilmu kang nyata, sanyatane mung weh reseping ati, bungah ingaran cubluk, sukeng tyas yen den ina, nora kaya si punggung angung gumunggung, ugungan sadina dina, aja mangkana wong urip’.

Di jabarkan dalam pemaknaanya, sejatinya ilmu yang nyata itu bisa membuat hati tenteram. Bisa menerima meski dianggap orang bodoh. Semua itu karena sifat ihklas dan menerima yang dimiliki. Tidak seperti orang bodoh yang hanya mengumbar omongan setiap hari. Dan sebenarnya tidaklah demikian caranya orang hidup itu.

Acara tetembangan yang di gelar di Aula Kantor PCNU Kota Surakarta menjadi rutinitas kegiatan Lesbumi yang di gelar selapan hari sekali untuk mengenang jasa KGPAA Mangkunegoro IV . /Jk



Komentar

Berita Lain