oleh

Ini Kondisi Makam Roro Mendut Yang Dulu Heboh Dipakai Ritual Mesum Demi Untuk Pelarisan

-Jelajah-488 views

LOKABALI.COM-Makam Roro Mendut dan Pronocitro di Gandu, Sendangtirto, Sleman kondisinya sekarang sudah banyak yang rusak. Di kiri kanan bangunan makam banyak ditumbuhi semak dan alang alang.

Pekarangan makam Roro Mendut yang banyak di tumbuhi pohon pohon besar/foto: lokabali.com

Beberapa tahun silam tembok pagar teras bangunan makam di robohkan oleh warga sekitar, pasalnya para pelaku ritual yang datang ke makam Roro Mendut dan Pronocitro kerap melakukan ritual nyleneh dengan cara berhubungan badan di teras makam demi untuk memperoleh pelarisan dan kekayaan.

ITB-STIKOM-Bali
Bangunan makam Roro Mendut & Pronocitra di Sendangtirto, Sleman, Jogjakarta/foto: lokabali

Dari keterangan warga sekitar di ketahui, ritual nyeleneh menyesatkan tersebut dilakukan para pelaku ritual puluhan tahun silam, namun sejak mulai meresahkan warga, teras cungkup makam Roro Mendut dan Pronocitro lantas di bongkar oleh warga sekitar.

‘ Tidak semua pelaku ritual melakukan ritual tidak senonoh seperti itu, ada juga yang datang hanya untuk ziarah.’ Jelas salah seorang warga yang rumahnya berseberangan dengan makam Roro Mendut dan Pronocitro.

‘Kebanyakan mereka ( pelaku ritual ) bukan warga masyarakat sekitar, dari luar daerah. Dulu juru kuncinya bernama mbah Imam, tetapi sekarang sudah almarhum ‘ imbuhnya

Sejak ritual nyleneh tersebut di tentang dan di larang oleh warga, sekarang jarang ada pelaku ritual yang datang ziarah. Makam yang lokasinya berada di tengah lahan pekarangan, dari luar memang tidak tampak adanya bangunan makam, lantaran tertutup lebatnya pohon besar yang ada di sekelilingnya.

Ritual hubungan kelamin yang dilakukan pelaku ritual di makam Roro Mendut dan Pronocitro, juga sering terjadi di tempat keramat lainya, lantaran kurangnya pehamanan mereka tentang ilmu agama sehingga mudah di sesatkan dengan janji kenikmatan dan kekayaan duniawi. Apalagi pasangan yang di ajak berhubungan intim bukan suami atau istri yang sah, sehingga semakin sesat apa yang mereka lakukan.

Oleh karena itu peran tokoh agama dan tokoh masyarakat sangat penting bisa memberikan pemahaman tentang nilai luhur budaya bangsa, agar masyarakat mampu memahami secara utuh adi luhung budaya bangsa. Sebab di pandang dari sudut budaya luhur, ritual tersebut tidak di benarkan, menyimpang dari kearifan budaya bangsa dan melanggar norma norma agama.

Nisan makam Roro Mendut dan Pronocitro posisinya menumpuk menyatu di atas liang lahat. Konon posisi ini sengaja di lakukan sebab pada saat di makamkan, jasad keduanya di satukan dalam satu liang lahat. Roro Mendut dan Pronocitro dalam mitologi jawa di anggap sebagai simbol cinta sehidup semati, seperti cerita romance Romeo dan Juliet.

Kisah cinta Roro Mendut dan Pronocitro terjadi di era kejayaan Mataram, di masa pemerintahan Sultan Agung. Roro Mendut hidup di daerah pesisir utara, di Kadipaten Pati.

Di kisahkan ia sebagai seorang perempuan yang di anugerahi paras sangat cantik sekali. Kecantikanya tidak hanya menggoda syahwat pria pada umumnya , tetapi juga para punggawa keraton salah satunya adalah Tumenggung Wiroguna.

Akan tetapi niat Tumenggung Wiroguna mempersunting Roro Mendut kandas di tengah jalan, lantaran hati perempuan yang ia cintai tertambat hatinya kepada pemuda desa bernama Pronocitro. Untuk menghalangi agar cinta keduanya putus, Wiroguna kemudian berupaya menarik pajak yang sangat tinggi kepada Roro Mendut.

Dengan memanfaatkan kecantikan dan syahwat para pria yang terpesona kepada dirinya, Roro Mendut lantas menjual rokok linting yang di lem dengan jilatanya. Erotisme ini membuat para laki laki semakin penasaran ingin membeli rokok lintingan dari jilatan Roro Mendut.

Alhasil setiap hari jualanya sangat laris sekali sehingga ia mampu membayar pajak yang di bebankan oleh Tumenggung Wiroguna. Mengetahui siasatnya gagal, Wiroguna berang dan membunuh Pronocitro yang dianggap sebagai penghalang satu satunya untuk mempersunting Roro Mendut.

Melihat kematian pria yang ia cintai, Roro Mendut lantas mencabut keris yang menancap di dada Pronocitra dan menyusulnya ke alam baka.

Tak di ketahui benang merah asal usul peristiwa tersebut terjadi hingga keduanya di makamkan di daerah Sleman, Jogjakarta. Meski di akui pada jaman dahulu pusat pemerintahan Mataram Islam pernah berada di daerah Jogjakarta. /Tk



Komentar

Berita Lain