oleh

Gede Surya Darma Merekonstruksi Pandemi Dalam Art Performance ‘Blind in Paradise’

-Seni-264 views

LOKABALI.COM – Pameran seni rupa bertajuk ‘Sip Setiap Saat’ menampilkan beragam karya salah satunya I Gede Made Surya Darma. Pelukis lulusan ISI Yogyakarta ini selain memajang karya berjudul ‘Perdana Baka’, juga menampilkan Art Performance bertema ‘Blind in Paradise’ yang digelar di Griya Santrian Hotel, Sanur, Rabu (6/1/2021).

Surya Darma mengatakan, art performance kali ini untuk merespons situasi pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Sebelumnya, ia menampilkan art performance nya di India, 2021.



“Saya sebagai seniman juga ada kegelisahan, semua orang merasa sedih. Tapi di satu sisi, kita bisa belajar dari pandemi ini, saya berupaya memaknai cerita Wayang Tantri yang mengisahkan cerita Pedanda Baka yang saya tuangkan ke dalam kanvas. Walaupun cerita ini sudah sangat tua, namun pesan yang disampaikan sangat relevan dengan era kekinian,” jelas Surya Darma.

Art Performance bertema ‘Blind in Paradise’ yang digelar di Griya Santrian Hotel, Sanur, Rabu (6/1/2021) – foto: Lokabali.com

Karya yang dikolaborasikan dengan lukisannya yang berjudul Pedanda Baka, dikarenakan adanya kedekatan konsep. Dipilihnya kolam renang sebagai tempat art performance karena kejadiannya sama-sama di dalam air.

Dalam penampilan seni itu Surya Darma menutupi kolam renang dengan berbagai macam bunga, sebagai simbol dari paradise keindahan kehidupan duniawi. Sedangkan lukisan Pedanda Baka dibiarkan mengambang di antara taburan bunga di daIam kolam renang tersebut.

Selain itu juga mengandung makna bahwa kearifan lokal atau cerita rakyat seperti Pedanda Baka, memiliki banyak pesan moral yang bisa dijadikan sesuluh hidup.

Selain menebar bunga, Surya Darma juga menebarkan print kertas mengenai sejarah virus yang melanda dunia dan dampak yang ditimbulkan. Rekonstruksi sejarah virus dijadikan sebagai perenungan untuk selalu waspada.

“Saya mengambang di permukaan air dengan tebaran bunga dan kertas yang diprint tentang sejarah virus Covid-19. Mata saya ditutup sebagai simboI bahwa tidak bisa jelas melihat mana yang benar mana yang salah. Seolah-olah buta dalam kegemerlapan kehidupan duniawi. Dengan adanya situasi dunia yang tidak menentu tersebutlah, saya ingin mengajak audience untuk memaknai kembali kearifan lokal dari cerita tradisional Pedanda Baka, maupun cerita rakyat lokal lainnya, sebagai sesuluh hidup pada era kekinian,” ujarnya.

Sementara itu Kurator Pameran ‘Seni Sip Setiap Saat’, Wayan Seriyoga Parta mengatakan, pameran seni kali ini untuk merespons pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan akan berhenti.

“Intinya kita ingin keluar dari persoalan Covid-19 ini, maka kita menghadirkan art performance, bahwa geliat seni ditengah sepinya pariwisata masih bisa dinikmati secara khusuk,” tutup Wayan Seriyoga. (Ros)



Komentar

Berita Lain