oleh

Di Madura ada Karapan Sapi, di Jembrana Bali Ada Makepung, Karapan Kerbau

-Tradisi-743 views

LOKABALI.COM – Menurut I Kadek Nuraga (45), warga Desa Banyubiru, Dusun Banyubiru, Kecamatan Negara, yang juga seorang penghobi pacuan kerbau menyebutkan, adu tanding dalam Mekepung hanya melibatkan dua pemain yang menunggangi bajak kemudian ditarik oleh dua ekor kerbau. Bajak ini disebut warga sebagai bajak lampit lau yang berfungsi untuk melumatkan tanah menjadi lumpur.

“Awal mula tradisi ini berkembang menggunakan bajak lampit lau karena track atau lintasannya berada di sawah yang digenangi air. Tapi lama kelamaan, kendaraannya berubah memakai pedati tapi ukurannya sangat kecil, cuma bisa muat satu orang saja yang tak lain adalah si joki sendiri,” terang Kadek Nuraga yang puluhan tahun menekuni hobi pacuan kerbau ini.

Adu tanding ini memang cukup seru sekaligus membuat jantung berdebar. Dengan kekuatan kerbau menarik pedati, dimungkinkan pedati yang terbuat dari kayu tidak kuat menahan tarikan sehingga berakibat jatuhnya si penunggang. Namun, para pembalap ini seakan tidak merasakan kekhawatiran sedikit pun. Bahkan, sebisa mungkin si joki memacu kerbaunya sekencang yang bisa dilakukan demi merebut kemenangan.

“Kecelakaan bisa saja terjadi, bahkan sering terjadi ketika ada pacuan seperti itu. Tapi ini sudah jadi tradisi, kami harus berani mengungguli lawan dengan memacu kerbau sekencang mungkin,” ujar Nuraga enteng.

Bagi peserta Mekepung, antusiasme dan ambisi meraih kemenangan sangat sebanding dengan hadiah yang ditawarkan. Disamping, kebanggaan dan gengsi bagi warga yang wakilnya menjuarai pacuan kerbau ini. Nuraga mengatakan, dalam perlombaan resmi pacuan kerbau ini hadiah yang ditawarkan panitia juga cukup menggiurkan.

Selain tropi, pemenang juga berhak mengantongi uang Rp 15 juta dan kerbaunya pasti harga jualnya akan melambung beberapa kali lipat Bahkan, sepasang kerbau yang memenangi pacuan Mekepung ini bisa ditawar sampai Rp 80 juta. Padahal, menurut Nuraga, harga pasaran sepasang kerbau biasa cuma Rp 15 juta saja.

“Karena itu kita berusaha untuk menjadi pemenangnya. Kalau sudah menang warga pasti akan menggelar pesta. Disamping harga jual kerbau langsung melonjak drastis. Siapa yang tak tergiur,” ungkap pria yang berprofesi sebagai wiraswastawan ini demikian.
Pacuan kerbau ini melibatkan kelompok yang berada di sebelah timur sungai Ijo Gading yang disebut dengan blok timur dan diberi nama ‘Regu Ijo Gading Timur’ dengan lambang Bendera warna merah. Sedangkan kelompok lawan berasal dari sebelah Barat Sungai Ijogading, disebut dengan blok barat), dengan nama ‘Regu Ijo Gading Barat’ dengan lambang bendera warna hijau. Ijo Gading sendiri merupakan nama sebuah sungai yang membelah jantung Kota Negara, Ibukota kabupaten Jembrana sehingga menjadi dua bagian. Yaitu, belahan kota sebelah barat sungai Ijo Gading dan belahan sebelah timur sungai Ijo Gading.

Para Sais atau Joki mengenakan busana tradisional Bali berupa ikat kepala destar batik, baju tangan panjang memakai selempod, bercelana panjang dan memakai sepatu tetapi tidak menyelipkan pedang. Seperti disebutkan, kendaraan pacuan kerbau model sekarang menggunakan pedati mini.

Menurut Nuraga, ini berbeda dengan mekepung tempo dulu yang kostum jokinya mengenakan pakaian ala prajurit Kerajaan Bali jaman dulu, yaitu pakai destar, selendang, selempod, celana panjang tanpa alas kaki dan dipinggang terselip sebilah pedang yang memakai sarung poleng (kain warna hitam putih). (*)

Komentar

Berita Lain