oleh

Dampak Perubahan Ekologi Media di Era Disrupsi Digital

-Berita-744 views

LOKABALI.COM – Media di era disrupsi digital telah mengalami perubahan ekologi. Perubahan yang terjadi yakni, prioritas kecepatan berita dan bukan keakuratan, munculnya fenomena clickbait, news aggregator atau berita lansiran yang dikumpulkan dalam satu portal, sosmed, pandemi dan pseudo journalism atau jurnalisme semu.

Tenaga Ahli Madya Kedeputian Informasi dan Komunikasi Publik Kantor Staf Presiden Prita Laura mengatakan, disrupsi digital menjadi era yang sulit dikendalikan.

KSU-Pemogan

Eks jurnalis televisi swasta nasional ini mengatakan, penulisan dalam konteks pseudo journalism seolah-olah dibuat sesuai kaidah jurnalistik. Akibatnya, masyarakat semakin tidak percaya data, tapi meyakini informasi yang berkembang di medsos sebagai sebuah kebenaran.

“Orang sulit membedakan, antara pendapat pribadi dan news, tapi itu dianggap sebuah kebenaran. Ketika sosmed sulit dikendalikan, kuncinya ada di kualitas penulisan jurnalistik,” kata Prita Laura di Kuta, Kamis, 15 April 2021.

Menyikapi demokrasi cerdas di era Disrupsi Digital, Heru Margianto dari Kompas.com menyoroti kebutuhan media digital yang justru bergantung pada jumlah klik. Ia sepakat, wartawan media digital harus membuat berita menjadi clickable atau memiliki daya klik.

“Yang harus kita lakukan yakni, mendulang klik tanpa konflik. Karena karakteristik media online harus ada klik agar informasi sampai ke audiens. Tidak ada gunanya sebagus apapun menulis tapi kalau tidak ada klik,” kata Heru.

Ia menekankan clickable berbeda dengan clickbait. Clickable yakni menyesuaikan dengan apa yang dicari dan dibutuhkan oleh pembaca.

“Sedangkan clickbait cenderung mengarah pada pembohongan. Dengan clickbait menyebabkan kehilangan kredibilitas, dan saya sebagai praktisi tidak menyarankan,” ungkapnya.

Mayong Suryo Laksono, Anggota Dewan Pengawas LKBN Antara menekankan, eksistensi media digital mensyaratkan adanya jumlah kunjungan pembaca. Namun menurutnya, tidak seharusnya semua informasi bisa ditampilkan di media mainstream digital.

“Ada prinsip-prinsip jurnalistik yang harus jadi pegangan,” ujarnya.

Sementara, Redaktur Pelaksana infopublik.id Dwitri Waluyo menyoroti pemilihan judul bombastis yang justru berpotensi merugikan publik sendiri. Ia mencontohkan kondisi Bali ketika diguncang isu erupsi Gunung Agung tahun 2017 lalu.

“Ketika pemberitaan negatif turis langsung kabur, dan dampaknya juga mempengaruhi wisatawan dan masyarakat Bali sendiri,” kata Dwitri.

Kominfo menggelar webinar series II dengan mengangkat tema, ‘Jaga Berita, Jaga Cinta, Jaga Indonesia’ di Kuta, Kamis 15 April 2021. Acara dipandu oleh Algooth Putranto, alumnus Udayana yang saat ini jadi dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie. (Ros)



Komentar

Berita Lain