oleh

Asal Usul Malam 1 Suro

LOKABALI.COM-Bulan Suro berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo yang memiliki makna mempersatukan kekuatan rakyat. Sultan Agung merupakan raja Mataram yang gentur menolak kolonial penjajahan. Bersama pasukannya ia tak henti hentinya melakukan serangan terhadap kolonial penjajahan. Dua kali Sultan Agung melakukan serangan besar besaran ke Batavia namun gagal, dikarenakan tidak bersatunya rakyat kala itu. Dari sisi persenjataan Mataram juga kalah kuat jika di bandingkan dengan persenjataan milik para penjajah.

Oleh karena itu sebagai seorang raja yang memiliki kekuatan mampu menyatukan seluruh nusantara , Sultan Agung Hanyokrokusumo lantas memiliki ide menyatukan dua buah penanggalan yang saat itu di anut dalam tatanan hidup masyarakat Jawa. Kepiawaian Sultan Agung menyatukan dua buah penanggalan di karenakan masyarakat Jawa terbagi dalam dua keyakinan yang masih lekat, Hindu dan Islam. Penyatuan dua buah penanggalan tersebut dengan harapan masyarakat Jawa mampu bersatu dalam satu tatanan penanggalan yang akan di pakai sebagai sarana pemersatu bangsa.

ITB-STIKOM-Bali

Masyarakat Jawa yang sebelumnya sudah memiliki penanggalan tahun Saka ( kalender hindu) di gabungkan dengan kalender tahun Hijjriyah yang di bawa oleh para wali. Penggabungan Tahun Saka Dan Tahun Hijjriyah kemudian lahirlah penanggalan tahun Jawa yang saat itu terjadi pada tahun 1633, sedangkan Tahun Saka yang berumur 1555 di gabungkan dengan Tahun Hijjriyah 1043, namun oleh Sultan Agung perjalanan waktu Tahun Jawa melanjutkan perjalanan Tahun Saka, sedangkan pada awal penanggalan tahun baru Jawa jatuh pada malam satu Suro.

Penanggalan Tahun Jawa berbeda dengan penanggalan kelender Hijjriyah yang mengenal dua belas bulan dalam setahun. Dalam penanggalan Jawa masyarakat jawa hanya mengenal penghitungan windu ( delapan). Tiap tahun penanggalan Jawa memiliki arti dan nama sendiri sendiri selama sewindu (8th).

Sedangkan nama tahun dalam sewindu diantaranya Alif, Ehe, Jimawa, Je, Dal, Be, Wawu dan Jimakir.

Pada kalender penanggalan Tahun Jawa memiliki ke istimewaan yang berhubungan dengan umur dan weton manusia. Dalam penanggalan Tahun Jawa di kenal dengan nama tumbuk cilik dan tumbuk gede. Tumbuk yang berarti bertemu pada saat tumbuk cilik, weton dan tanggal lahir manusia akan bertemu di saat yang bersamaan. Sedangkan pada tumbuk besar , hari, weton, dukutan serta seluruh petung penanggalan hari lahir semuanya akan bertemu seperti pertama kali kita di lahirkan. Tumbuk gede terjadi hanya sekali setiap 64 tahun.

Sedangkan pada bulan Suro di percaya masyarakat Jawa pantang untuk menggelar hajatan dan tradisi yang berkaitan dengan keramaian dan suka cita seperti halnya hajatan pengantin. Pantangan tersebut sebenarnya merupakan kebiasaan masyarakat jawa dalam merenungi laku perjalanan hidup selama delapan bulan ke depan.

Bahkan mitos tidak bolehnya masyarakat jawa menggelar hajatan dibulan suro semakin ditajamkan saja, karena pada bulan tersebut hanya Karaton yang boleh menggelar upacara hajatan. Pengertian seperti itu keliru atau sesuatu yang di tajam tajamkan.

Bulan Suro bagi Karaton merupakan introspeksi pendekatan diri kepada Sang Maha Tunggal. Pada bulan sura keraton memiliki banyak agenda kegiatan tentang perenungan hidup serta gelaran rangkaian upacara adat yang kesemuanya bertujuan pada pendekatan diri kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. /jk

.



Komentar

Berita Lain